Hari itu kami berempat mengenakan batik: saya, Mas Munjid, Mas Rofiq dan Mbak Mytha. Sebagai student volunteer pada acara Swidler Gala, kami sepakat untuk mengenakan batik, sekaligus mengenalkan pakaian tradisional Indonesia itu pada tamu-tamu yang hadir.
Pukul 3.00 pm kami sudah berkumpul di tempat. Sebelum para tamu undangan datang, bersama pada panitia yang lain kami mempersiapkan segala atribut penyambutan dan penanda-penanda. Karena tempat acara tidak begitu familiar, bahkan bagi kami mahasiswa Temple University, maka diperlukan banyak penanda menuju tempat acara. Swidler Gala diadakan di Alter Hall, Liacouras Walk.
Satu persatu para tamu undangan berdatangan. Mereka adalah kolega, teman, sahabat, dan rekan kerja prof. Swidler, yang biasa dipanggil Len. Sebagai penggiat dialog agama, teman dan kolega yang datang tentu berasal dari beragam keyakinan: Hindu, Buddha, Islam, Yahudi, dan Kristen. Salah satu pegiat dialog agama yang hadir adalah Prof. Paul Knitter.
Paul Knitter inilah inti ceritanya. Setelah berbincang dengan sang professor, Mbak Mytha berkomentar begini: “Kalau sudah berbicara seperti ini, dia tidak tampak seperti penulis terkenal ya?” Maksudnya, dia sedang mengagumi kebersahajaan dan keramahan seorang intelektual dan penulis produktif Barat itu. Apresiasi dan atensi yang dia berikan kepada orang lain yang tidak se-“level” dengan dia tetaplah sama dengan apresiasi dan atensi dia saat berbicara dengan kolega dan teman-teman se-level. Dengan kata lain, tak ada diferensiasi. Intelektualitas bukan pembeda yang menyekat etika berkomunikasi menjadi bagian-bagian terpisah. Sikap ini tentu tidak semua orang memilikinya. Bagi sebagian orang, status dan posisi membuat dia terkesan merendahkan mereka yang berstatus di bawahnya.
Persoalan status dan sikap keseharian menjadi penting, karena di Indonesia masih sering kita temukan gaya “feodalisme” di kalangan para intelektual. Mereka yang sudah menjadi popular dan memiliki nama besar, kemudian merasa menjadi “artis” yang tidak mudah bergaul dengan semua orang. Menjaga jarak. Menjaga imej. Seakan harus berwibawa, seakan harus memilah dan memilih dengan siapa dia harus bergaul dan berbicara. Tak heran jika kesempatan berdialog dan berbincang santai dengan para intelektual Indonesia, tak mudah dilakukan.
Tentu saja barometer di atas tidak bisa dibenarkan begitu saja. Tidak untuk semua orang. Ini lebih terkait dengan sikap dan karakter pribadi. Di Indonesia juga banyak para intelektual yang ramah dan bersahaja, seperti banyak juga intelektual Barat yang angkuh dan jaim. “Biasanya, orang-orang antropolog lebih populis dan ramah daripada sosiolog,” simpul seorang teman saat kami membincang sikap keseharian professor di National University of Singapore. Kata-kata teman tadi muncul dari pengalaman dia selama berinteraksi dengan para intelektual yang berasal dari dua disiplin ilmu di atas. Mungkin, dalam konteks studi agama, dia akan berkata begini: “Orang yang mengkaji interreligious studies lebih mudah bergaul, bersahaja, dan mendengarkan orang lain, daripada mereka yang ekslusif.”
Banyak hal memang yang menyebabkan seorang intelektual mudah bergaul, berinteraksi, ramah, dan tidak terkesan menjaga jarak dengan orang lain. Apalagi yang tidak “selevel” dengan dia. Tapi, apapun alasannya, ketika seseorang sudah mudah memandang orang lain sebagai tidak “selevel” dan tak penting untuk berbicara dengannya, dia bukanlah intelektual yang baik. [loh, kok nuduh!:)]
Sekadar menguatkan cerita, di Temple University ada seorang professor yang terkesan angkuh dan tidak disukai mahasiswa. Salah satu komentar teman, menelisik sebab dan latar belakang kenapa sang professor bersikap seperti itu, begini: “Kurasa karena dia berasal dari keluarga yang elite, statusnya tinggi di masyarakat, dan dia sangat dihormati oleh komunitasnya.”
Saya pun teringat seorang teman, dulu, ketika masih di pesantren. Dia pernah menghadiri seminar di Surabaya. Pulangnya, dengan penuh semangat dia bercerita soal pertemuannya dengan seorang tokoh intelektual nasional. “Bayangkan saja, aku dengan enak makan di kursi, sebab aku lebih dulu datang, dan karena sudah tak ada kursi, dia (intelektual itu) duduk di lantai. Aku tak perlu merasa harus menyilahkan dia duduk di kursi, dia pun tak memintaku untuk duduk di lantai. Orang lain juga tidak. Inilah persamaan. Aku senang sekali. Sebab di sini, di pesantren ini, kukira tak ada yang seperti itu…” Inilah kisah kebersahajaan dan persamaan dalam versi teman lama saya.
Akhirnya, pikiran saya mencoba menyimpulkan tanya: feodalismekah yang melahirkan intelektual angkuh dan tak bersahaja?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar